Cupang hias
untuk mencari informasi.yang mungikn anda inginkan dan jangan malu untuk bertanda maupun mencari informasi.
Sunday, 17 May 2020
Sunday, 29 March 2020
MENGENAL DUNIA BETTA FISH (IKAN CUPANG)
1. Ciri Ciri Ikan Cupang Aduan
Cara membuktikan keandalan cupang adu adalah dengan melihatnya ketika bertarung. Karena ada beberapa ikan cupang yang dianggap sebagai cupang hias, ternyata perkasa ketika diadu. Namun secara umum ciri-cirinya bisa dilihat sebagai berikut:
- Bentuk tubuh cupang adu terlihat kokoh. Lebar dan tinggi ikan mulai dari leher hingga ke ekor memiliki besar dan ketebalan yang sama. Hanya pada ujung ekor terlihat sedikit mengecil.
- Gerakannya agresif. Tidak lamban dan anggun seperti cupang hias.
- Ketika melihat musuh, sirip-siripnya mengembang penuh. Ini menandakan mental yang bagus untuk bertarung.
- Bibir tampak tebal dan kokoh. Mulutnya terkatup rapat tidak menganga. Bila dilihat dari atas, pada bibir bagian bawah terdapat bintik-bintik mencirikan gigi yang runcing.
Cupang adu biasanya berasal dari spesies Betta splendens, Betta imbellis, Betta mahachai dan variasi silangan-silangannya. Kontes cupang adu banyak digelar di negara-negar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sedangkan di beberapa negara lain, seperti Amerika Serikat, mengadu ikan cupang dianggap kejahatan dan ilegal.
2. Ciri-ciri Ikan Cupang Hias
- Bentuk sirip dan ekor menjumbai panjang. Struktur tulang sirip dan ekor menunjukkan bentuk yang khas.
- Warna tubuh terang tidak kusam. Memiliki varian warna yang menarik dan atraktif.
- Gerakkannya tenang, kibasan-kibasan siripnya menampakkan keanggunan.
- Bila melihat musuh atau sedang bercumbu, sirip dan ekornya terkembang sempurna menunjukkan bentuk yang khas.
Sunday, 21 January 2018
Kesenian Jawa Timur
KUDA KENCAK
Pada Awalnya Jaran Kencak di sebut dengan jaran kepang meskipun bukan terbuat dari anyaman bambu, karena pada saat itu kuda yang di kenderai rombongan dari Ponorogo hendak mengirimkan delegasi ke bali, untuk menjalin persaudaraan kerabat dan sudara Batara Kathong dari kerajaan Majapahit yang mengungsi ke Bali.
Namun ketika sampai di Lumajang, kuda yang di kenakan seragam jazirah perang seperti di pewayangan untuk di persembahkan di bali memberontak kesana kemari dan menendang-nendang tiada henti melawan rombongan, hingga dibuat sebuah keputusan bahwa kuda dan beberapa penjaga untuk tetap tinggal di lumajang untuk menenangkan kuda, sedangkan rombongan tetap melanjutkan ke Bali.
Hingga akhirnya kuda yang memberontak menjadi tenang dan jinak kembali, warga sekitar yang melihat kuda dijinakan tersebut merasa terhibur, Sejak saat itu menjadi sebuah kesenian bernama Jaran Ngepang yang berarti kuda menendang, namun lebih dikenal dengan nama Jaran Kepang.
Pada tahun 1806, cakraningrat sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang sampang Madura ke pulau Jawa bagian tapal kuda seperti Lumajang. Orang madura yang menjadi punduduk lumajang juga menggemari kesenian bernama jaran Kepang ini, karena seokor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan republik Indonesia jaran kepang lebih di kenal dengan jaran pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini.
Catatan: wajib menjaga dan melestarikan kesenian daerah agar tidak hilang
Pada Awalnya Jaran Kencak di sebut dengan jaran kepang meskipun bukan terbuat dari anyaman bambu, karena pada saat itu kuda yang di kenderai rombongan dari Ponorogo hendak mengirimkan delegasi ke bali, untuk menjalin persaudaraan kerabat dan sudara Batara Kathong dari kerajaan Majapahit yang mengungsi ke Bali.
Namun ketika sampai di Lumajang, kuda yang di kenakan seragam jazirah perang seperti di pewayangan untuk di persembahkan di bali memberontak kesana kemari dan menendang-nendang tiada henti melawan rombongan, hingga dibuat sebuah keputusan bahwa kuda dan beberapa penjaga untuk tetap tinggal di lumajang untuk menenangkan kuda, sedangkan rombongan tetap melanjutkan ke Bali.
Hingga akhirnya kuda yang memberontak menjadi tenang dan jinak kembali, warga sekitar yang melihat kuda dijinakan tersebut merasa terhibur, Sejak saat itu menjadi sebuah kesenian bernama Jaran Ngepang yang berarti kuda menendang, namun lebih dikenal dengan nama Jaran Kepang.
Pada tahun 1806, cakraningrat sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang sampang Madura ke pulau Jawa bagian tapal kuda seperti Lumajang. Orang madura yang menjadi punduduk lumajang juga menggemari kesenian bernama jaran Kepang ini, karena seokor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan republik Indonesia jaran kepang lebih di kenal dengan jaran pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini.
Catatan: wajib menjaga dan melestarikan kesenian daerah agar tidak hilang
Cerita Rakyat Jawa timur
SARIP TAMBAK YOSO
Dusun Tambak Oso dibagi menjadi 2 wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai, wilayah tersebut biasa disebut Wetan kali dan Kulon Kali. Masing-masing wilayah mempunyai Jagoan (orang yang disegani karena kesaktiannya). Wilayah Kulon kali di kuasai oleh seorang jagoan bernama Paidi, dan Wetan kali dikuasai oleh Sarip.
Paidi adalah seorang pendekar yang berprofesi sebagai Kusir Dokar yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang yang terkenal dengan sebutan Jagang Baceman.
Sarip adalah pemuda jagoan dari desa Tambak Oso yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda. Di tengah kemiskinan dan kebodohan, Sarip bertindak sebagai maling budiman yang mencuri di rumah-rumah orang Belanda, saudagar kikir, dan para lintah darat, untuk dibagi-bagikan kepada warga miskin.
Sarip selalu menjadi Target Operasi Government Belanda, karena perbuatannya yang dianggap membuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda.
Suatu hari, sarip mendapati Ibunya sedang dihajar oleh Lurah Gedangan karena ibunya tidak dapat membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya.
Di lain hari diceritakan Saropah (adik misan Sarip) hendak pulang dari menagih pada orang-orang yang terpaut hutang dengan orang tuanya, di tengah jalan bertemu dengan Sarip dan pada saat itu Sarip bermaksud meminjam uang pada Saropah, karena belum mendapat izin dari orang tuanya, Saropah tidak mengabulkan permintaan Sarip. Sarip yang punya perangai kasar tidak sabar dan memaksa Saropah untuk menyerahkan arloji yang sedang dipakainya, dan disaat terjadi perseteruan tersebut muncullah Paidi yang hendak menjemput Saropah. Oleh Orang tua Saropah Paidi memang telah dipercaya untuk menjaga Saropah agar aman dari ancaman orang2 yang tidak senang.
Setelah terjadi perang mulut antara Sarip dan Paidi, terjadilah duel maut antara dua pendekar tersebut. Sebilah pisau daput ternyata tidak lebih mempan dibanding Jagang Baceman yang notabene lebih panjang, akhirnya Sarip tewas dalam perkelahian tersebut dan mayatnya dibuang di sungai Sedati.
Dibagian hilir sungai Sedati, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu. Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir di sungai itu, dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia menjerit seraya berteriak "Sariiip durung wayahe Nak....." (Terjemah: Sarip, belum waktunya, Nak). Anehnya Sarip bangkit dari kematiannya dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur di sungai.
Kemudian ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, Ayahnya bertapa di Goa Tapa (daerah Sumber Manjing)selama beberapa waktu, dan ayahnya kembali pada saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah "Lemah Abang". Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan dapat bangkit dari kematian apabila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh 1.000 kali dalam sehari.
Dusun Tambak Oso dibagi menjadi 2 wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai, wilayah tersebut biasa disebut Wetan kali dan Kulon Kali. Masing-masing wilayah mempunyai Jagoan (orang yang disegani karena kesaktiannya). Wilayah Kulon kali di kuasai oleh seorang jagoan bernama Paidi, dan Wetan kali dikuasai oleh Sarip.
Paidi adalah seorang pendekar yang berprofesi sebagai Kusir Dokar yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang yang terkenal dengan sebutan Jagang Baceman.
Sarip adalah pemuda jagoan dari desa Tambak Oso yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda. Di tengah kemiskinan dan kebodohan, Sarip bertindak sebagai maling budiman yang mencuri di rumah-rumah orang Belanda, saudagar kikir, dan para lintah darat, untuk dibagi-bagikan kepada warga miskin.
Sarip selalu menjadi Target Operasi Government Belanda, karena perbuatannya yang dianggap membuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda.
Suatu hari, sarip mendapati Ibunya sedang dihajar oleh Lurah Gedangan karena ibunya tidak dapat membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya.
Di lain hari diceritakan Saropah (adik misan Sarip) hendak pulang dari menagih pada orang-orang yang terpaut hutang dengan orang tuanya, di tengah jalan bertemu dengan Sarip dan pada saat itu Sarip bermaksud meminjam uang pada Saropah, karena belum mendapat izin dari orang tuanya, Saropah tidak mengabulkan permintaan Sarip. Sarip yang punya perangai kasar tidak sabar dan memaksa Saropah untuk menyerahkan arloji yang sedang dipakainya, dan disaat terjadi perseteruan tersebut muncullah Paidi yang hendak menjemput Saropah. Oleh Orang tua Saropah Paidi memang telah dipercaya untuk menjaga Saropah agar aman dari ancaman orang2 yang tidak senang.
Setelah terjadi perang mulut antara Sarip dan Paidi, terjadilah duel maut antara dua pendekar tersebut. Sebilah pisau daput ternyata tidak lebih mempan dibanding Jagang Baceman yang notabene lebih panjang, akhirnya Sarip tewas dalam perkelahian tersebut dan mayatnya dibuang di sungai Sedati.
Dibagian hilir sungai Sedati, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu. Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir di sungai itu, dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia menjerit seraya berteriak "Sariiip durung wayahe Nak....." (Terjemah: Sarip, belum waktunya, Nak). Anehnya Sarip bangkit dari kematiannya dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur di sungai.
Kemudian ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, Ayahnya bertapa di Goa Tapa (daerah Sumber Manjing)selama beberapa waktu, dan ayahnya kembali pada saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah "Lemah Abang". Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan dapat bangkit dari kematian apabila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh 1.000 kali dalam sehari.
Aksi kuda kencak
Kesenian kuda kencak patut di acungi jempol, dari aksi kuda sendiri yang pintar untuk mematuhi intruksi dari pemilik kuda itu sendiri, maka kita generasi muda wajib menjaga dan melestarikan kesenian daerah jangan sampai hilang.
Thursday, 1 September 2016
Contoh Surat Izin Orang Tua
SURAT IZIN ORANG TUA
Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama
: Lukitya
Tempat/Tgl.Lahir : Semarang, 28 Juli 1973
Jenis
Kelamin
: Laki - laki
Pekerjaan
: Swasta
Alamat
: Pasirian kab.lumajang
Agama
: Islam
Dengan ini saya mengijinkan anak saya untuk melamar kerja di perusahaan
yang Bapak/Ibu Pimpin. Berikut identitas yang bersangkutan :
Nama
:
Tempat/Tgl.Lahir
:
Jenis
Kelamin
:
Alamat
:
Agama
:
Demikian surat izin ini saya buat dengan sebenarnya dan dapat digunakan
sebagaimana mestinya.
Asal Mula Desa Tambakrejo
disini saya akan menceritakan tentang asal mula desa Tambakrejo kab. Lumajang
Desa
Tambakrejo merupakan bagian dari Kecamatan Patebon yang ada di Kabupaten
Kendal. desa Tambakrejo terdiri dari 4 Rukun Warga dan 23 Rukun Tetangga.
Masyarakat yang tenteram dan damai dengan menjunjung nilai-nilai agama dan
budaya. Hal ini sudah sejak lama tetap utuh di desa Tambakrejo. Masyarakat yang
taat beribadah ini terlihat dengan kegiatan-kegiatan keagamaannya, seperti
adanya kegiatan “Kuliah Subuh” yang rutin diadakan pada minggu pagi sekitar
pukul 05.00 WIB.
Sobat
tahukah arti Tambakrejo itu??. Ketika Sobat berkunjung ke Desa Tambakrejo pasti
yang terbesit pertama kali dalam benak Sobat semua yaitu sebuah desa yang
memiliki banyak tambak ikannya dan dekat dengan laut. Sobat tidak akan mengira
bahwa sebenarnya desa Tambakrejo sebagian besar masyarakatnya berprofesi
sebagai petani padi dan jagung. Namun beberapa masyarakatnya ada juga yang
memiliki profesi sebagai petani tambak ikan.
Sejarah
pemberian nama Tambakrejo ini berawal dari sebuah kali besar yang berada di
barat laut desa Tambakrejo. RW 3 Desa Tambakrejo langsung berbatasan dengan
Desa Kebonharjo, kedua desa tersebut dipisahkan oleh “kali” atau sungai
besar. “Kali” besar tersebut ketika hujan lebat dapat menimbulkan banjir
di Desa Tambakrejo. Maka demi menangkis banjir tersebut dibuatlah jalan yang
besar dan tinggi oleh pangeran Lando. Kemudian pangeran Lando diberi julukan
kyai Tambak oleh wali Joko Kendil. Rakyat desa damai dan sejahtera, karena desa
tersebut bebas dari banjir karena “bejo” (karena ada tambak atau penahan
air yang dibuat). “Bejo” tadi diubah menjadi rejo. Kemudian desa
tersebut dikenal dengan nama desa Tambakrejo yang terdiri dari tiga RW dan satu
RW sisanya masih menjadi desa Tambakroto. Setelah lurah Tambakroto meninggal
dan tak ada yang menggantikannya, maka disatukanlah desa Tambakroto dengan desa
Tambakrejo yang sekarang menjadi RW 2.
Itulah
sejarah singkat dari desa Tambakrejo dan kehidupan sosial budayanya. Semoga
sejarah singkat di atas bermanfaat bagi para penikmat sejarah.
LEGENDA DESA CANDIPURO (Lumajang)
Candi Puro;
Peninggalan Mojopahit yang Mengilhami Nama Sebuah Kecamatan
Dipercaya, Bila Mandi di Kolam Bisa Awet Muda
Candi Putri atau Candi Puro yang terletak di Dukuh Selorejo, Desa Klopo Sawit, Kecamatan Candipuro, Lumajang menyimpan cerita sejarah tersendiri. Sayangnya, kondisi candi kini telah rusak dan tak terurus.
CANDI ini terletak sekitar 5 kilometer ke arah utara dari Balai Desa Sumberejo dan terletak di areal persawahan, masuk Desa Kloposawit. Berada di ketinggian 310 meter di atas permukaan laut (dpl) di lereng sebelah timur gunung Semeru.
Bangunan utama candi kini sudah tak berbentuk lagi. “Sekitar 20 tahun lalu, saya sering bermain ke sini dan bangunannya masih berdiri. Saya lupa tepatnya kapan candi ini rata dan tinggal tumpukan bata seperti ini,” jelas Kepala Desa Sumberejo Bowo Prayitno. Padahal, keberadaan candi inilah yang kemudian mengilhami munculnya nama Kecamatan Candipuro.
Bangunan candi sebagian besar terdiri dari batu bata merah berukuran sedang dengan luas mencapai 12 meter persegi. Selain tumpukan batu bata merah, terdapat beberapa batu andesit sebanyak 7 buah yang merupakan pintu ambang masuk ke dalam candi. “Dulu sewaktu saya masih kecil, bangunannya masih berdiri. Tapi kemudian ambruk dan akhirnya hanya ditumpuk seperti ini,” katanya sambil menunjukkan tumpukan batu bata.
Saat ini, bangunan candi hanya dibatasi pagar kawat yang sudah karatan. Menurut Bowo, sejak bangunan candi roboh, banyak warga yang mengambil batu bata. Ada yang digunakan tambahan bahan bangunan rumah, ada pula yang digunakan untuk tungku.
Keberadaan candi ini juga memunculkan cerita-cerita menarik dan sedikit berbau mistis. “Kalau tumang (tungku)-nya pakai batu candi, nasi yang dimasak tidak mateng-mateng (masak). Jadi ada yang dikembalikan lagi ke kompleks ini,” katanya.
Menurut cerita juga, di dalam bangunan candi, konon terdapat sebuah gua yang sangat panjang. “Katanya tembus hingga laut utara Jawa,” tambahnya. Tapi, belum ada yang masuk ke dalam gua untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut.
Sementara, kondisi sebelah selatan candi dengan jarak kira-kira 50 meter terdapat kubangan air yang dipenuhi rumput liar. Menurut Bowo, berdasarkan cerita yang dia dapatkan, kubangan ini dulunya merupakan kolam mandi yang airnya sangat jernih. “Berdasarkan cerita, kolam ini dulunya merupakan tempat mandi para putri Majapahit. Dan dipercaya jika mandi di kolam ini akan awet muda dan cantik,” jelasnya. Karenanya, lanjut dia, dulunya banyak yang mandi di kolam tersebut untuk mempertahankan kecantikan. Sayangnya, kolam tersebut kini sudah tak bisa lagi digunakan mandi. Seluruh kolam yang cukup luas itu sudah tertutup rumput ilalang dan lumut. Warga sekitar juga jarang yang mengambil air dari tempat tersebut.
Selain kedua lokasi tersebut, masih ada peninggalan lainnya. Yakni, berupa lingga yoni dari batu andesit 100 meter di arah utara candi. Yoni ini memiliki tinggi, panjang, dan lebar masing-masing 64 cm. sedangkan lingga memiliki diameter 16 cm. Bagian atas yoni pun sudah cuil dan patahannya banyak yang berserakan. Sedangkan pada lingga, pada bagian bulatannya juga patah. “Walau saya asli warga sini, saya tidak tahu pasti tentang candi ini,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Pendidikan Lumajang, hanya ada keterangan fisik material candi tanpa ada data yang lengkap soal candi tersebut. “Hanya tercatat jika bangunan candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1955,” ujar Suyadi, Kasi Kebudayaan. Candi tersebut, lanjut dia, diperkirakan dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit pada kisaran tahun 1200-an
Dilain Pihak, terkait perawatan Candi Putri atau Candi Puro, Kabidpora dan kebudayaan Drs Rukin berdalih, jika perawatan candi merupakan kewajiban pemeirntah provinsi. “Kalau kabupaten anggarannya tidak ada. Beberapa kali kami ajukan selalu dicoret,” ujarnya. (zawawi)
Dipercaya, Bila Mandi di Kolam Bisa Awet Muda
Candi Putri atau Candi Puro yang terletak di Dukuh Selorejo, Desa Klopo Sawit, Kecamatan Candipuro, Lumajang menyimpan cerita sejarah tersendiri. Sayangnya, kondisi candi kini telah rusak dan tak terurus.
CANDI ini terletak sekitar 5 kilometer ke arah utara dari Balai Desa Sumberejo dan terletak di areal persawahan, masuk Desa Kloposawit. Berada di ketinggian 310 meter di atas permukaan laut (dpl) di lereng sebelah timur gunung Semeru.
Bangunan utama candi kini sudah tak berbentuk lagi. “Sekitar 20 tahun lalu, saya sering bermain ke sini dan bangunannya masih berdiri. Saya lupa tepatnya kapan candi ini rata dan tinggal tumpukan bata seperti ini,” jelas Kepala Desa Sumberejo Bowo Prayitno. Padahal, keberadaan candi inilah yang kemudian mengilhami munculnya nama Kecamatan Candipuro.
Bangunan candi sebagian besar terdiri dari batu bata merah berukuran sedang dengan luas mencapai 12 meter persegi. Selain tumpukan batu bata merah, terdapat beberapa batu andesit sebanyak 7 buah yang merupakan pintu ambang masuk ke dalam candi. “Dulu sewaktu saya masih kecil, bangunannya masih berdiri. Tapi kemudian ambruk dan akhirnya hanya ditumpuk seperti ini,” katanya sambil menunjukkan tumpukan batu bata.
Saat ini, bangunan candi hanya dibatasi pagar kawat yang sudah karatan. Menurut Bowo, sejak bangunan candi roboh, banyak warga yang mengambil batu bata. Ada yang digunakan tambahan bahan bangunan rumah, ada pula yang digunakan untuk tungku.
Keberadaan candi ini juga memunculkan cerita-cerita menarik dan sedikit berbau mistis. “Kalau tumang (tungku)-nya pakai batu candi, nasi yang dimasak tidak mateng-mateng (masak). Jadi ada yang dikembalikan lagi ke kompleks ini,” katanya.
Menurut cerita juga, di dalam bangunan candi, konon terdapat sebuah gua yang sangat panjang. “Katanya tembus hingga laut utara Jawa,” tambahnya. Tapi, belum ada yang masuk ke dalam gua untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut.
Sementara, kondisi sebelah selatan candi dengan jarak kira-kira 50 meter terdapat kubangan air yang dipenuhi rumput liar. Menurut Bowo, berdasarkan cerita yang dia dapatkan, kubangan ini dulunya merupakan kolam mandi yang airnya sangat jernih. “Berdasarkan cerita, kolam ini dulunya merupakan tempat mandi para putri Majapahit. Dan dipercaya jika mandi di kolam ini akan awet muda dan cantik,” jelasnya. Karenanya, lanjut dia, dulunya banyak yang mandi di kolam tersebut untuk mempertahankan kecantikan. Sayangnya, kolam tersebut kini sudah tak bisa lagi digunakan mandi. Seluruh kolam yang cukup luas itu sudah tertutup rumput ilalang dan lumut. Warga sekitar juga jarang yang mengambil air dari tempat tersebut.
Selain kedua lokasi tersebut, masih ada peninggalan lainnya. Yakni, berupa lingga yoni dari batu andesit 100 meter di arah utara candi. Yoni ini memiliki tinggi, panjang, dan lebar masing-masing 64 cm. sedangkan lingga memiliki diameter 16 cm. Bagian atas yoni pun sudah cuil dan patahannya banyak yang berserakan. Sedangkan pada lingga, pada bagian bulatannya juga patah. “Walau saya asli warga sini, saya tidak tahu pasti tentang candi ini,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Pendidikan Lumajang, hanya ada keterangan fisik material candi tanpa ada data yang lengkap soal candi tersebut. “Hanya tercatat jika bangunan candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1955,” ujar Suyadi, Kasi Kebudayaan. Candi tersebut, lanjut dia, diperkirakan dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit pada kisaran tahun 1200-an
Dilain Pihak, terkait perawatan Candi Putri atau Candi Puro, Kabidpora dan kebudayaan Drs Rukin berdalih, jika perawatan candi merupakan kewajiban pemeirntah provinsi. “Kalau kabupaten anggarannya tidak ada. Beberapa kali kami ajukan selalu dicoret,” ujarnya. (zawawi)
Coban Kethak
Wista yang harus anda datangin di hari libur kerja maupun libur sekolah. sekedar untuk mengenalkan wisata pada bumi kartini yang kaya dengan kekayaan alamnya dan keindahan yang tak ada duanya.
Coban
Kethak berlokasi di desa Pait kecamatan Kasembon kabupaten Malang yang telah
dibuka sejak November 2014 oleh Disbudpar Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara
SH, bersama administratur/KPPH Malang Ir Arif Herlambang MM ini semakin lama
banyak juga yang mengunjungi dan penasaran dengan keberadaan batu kepala singa
Memang
benar,kalau kita amati secara seksama,batu kepala singa tersebut persis berada
di bawah aliran air terjun. Fina salah satu staf pengelola menjelaskan kepada
Malang Pagi di saat liburan sekolah kemarin pengunjung bisa mencapai rata-rata
500 sampai 600 wisatawan per hari.
“Untuk hari
libur biasa,pengunjung perhari sekitar 50 sampai70 wisatawan.Untuk wisatawan
sendiri banyak juga yang datang dari luar kota,mereka juga penasaran dengan keberadaan
batu yang mirip kepala singa,”jelas Fina.
Coban kethak
dengan luas 4 hektar banyak di tumbuhi pohon durian dan alpukat saat ini
pengelolaannya dikelola oleh yayasan Suba Indonesia bekerja sama dengan
Perhutani kabupaten Malang denga harga tiket masuk sebesar 5000 rupiah.
Lokasinya pun mudah dijangkau, persis di samping jalan raya hutan Pait sekitar
15 km dari kecamatan Pujon ,jadi wisata tidak terlalu repot dan banyak
bertanya.
Untuk menuju
lokasi,wisatawan harus menapaki jalan bebatuan sepanjang 25 meter melewati
bangunan yang terbuat dari bambu dan wisatawan langsung bisa berhadapan dengan
air terjun yang memecah tebing berhiaskan akar-akar pohon liar dan berair
dingin ini,bak perawan yang baru terjaga dari tidurnya.Sarana dan keindahan
yang alami membuat wisatawa betah berlama-lama di tempat ini,
Suara
deburan air terjun setinggi 25 meter ini seakan memecah kesunyian hutan rimba
yang dulunya banyak di huni satwa liar ,seperti kera dan beraneka macam burung.
Monday, 22 August 2016
Keong Mas
Dongeng Keong Mas dalam Bahasa
Jawa
Kira-kira wis setaun desa Dhadapan ngalami
mangsa ketiga kang dawa dadine larang pangan lan akeh lelara gawe uripe warga
ketula-tula.
Ora beda mbok Randha
Dhahapan, pawongan wadon tuwa sing lola tanpa dulur, nggo nyambung uripe
sabendinane dheweke luru krowodan ing alas kewan. Kewan kali kang nyisa ing
sawedhing mbebegan. Kahanan kaya mangono dheweke ora nggresula. Malah saya
nyaketake marang Gusti Kuasa. “Duh Gusthi paringana pepajar ing desa kula
mugi-mugi inggal kalis saking prahara punika.”
Esuk-esuk
mbok Randha menyang alas golek panganan. Nalika lagi milang-miling ruh cahya
cumlorot saka sak tengahing kali kanga sat. ing batine tuwuh pitakon “Cahya apa
kuwi, kok cumlorot kaya emas ?” banjur nyedaki sumber cahya mau. Bareng
dicedaki jebul sawijining keong Mas kang nyungsang ing antara watu-watu kali.
Keong banjur digawa mulih tekan ngomah dicemplungake genthong.
Kaya
biyasane, mbok Randha menyang alas nanging nganti meh surup urung entuk
krowodan dheweke banjur mulih ngelanthung ora entuk opo-opo. Sakwise
leyeh-leyeh ing emperan dheweke nyang pawon menawi ana krowodan kang bias
ganjel wetenge kang luwe. Dheweke kami tenggengen ngerti panganan kang ing
pawone. Batine kebak pitakon sopo sing ngeteri panganan kuwi. Ing saben dina
sak bacute saben mulih ko alas pawone wis cumepak panganan. Mula kanthi
sesideman dheweke ndedepi sapa kang mlebu ing pawone.
Mbok
Randha kaget ora kinara. Saben ditinggal lunga Keong Mas mau metu saka genthong
malih dadi putri kang ayu. Mbok Randha banjur nakoni sapa sejatine putri ayu
kuwi.
“Nduk
wong ayu sliramu iki sapa kok nganti kedarang-darang ing alas lan jilmo Keong
Mas ?”
“Yung
aranku Candrakirana, aku iki garwane Raja Inukerta. Raja ing Jenggala.”
“Lho kok
nganti dadi Keong Mas lan tumeka alas Dhadapan kuwi larah-larahe kepiye ?”
Dewi
Candrakirana banjur njlentrehake menawa ing sakwijining dina dicidra Raja Jin
Sakti kang kareb ngepek garwa. Ananging dheweke ora gelem nuruti karepe Jin.
Jin muntab, Dewi Candrakirana sinebda dadi Keong Mas banjur diguwang nyang
kali, adoh saka kraton Jenggala. Wekasane
ora bisa ketemu karo garwane Inukerta. Anehing kahanan nalika kecemplungan
Keong Mas kaline dadi asat. Asate banyu jalari Keong Mas nyungsang ing watu
nganti nemahi tiwas. Bejane ditemu lan diopeni Mbok Randha Dhadapan.
Jaka Tarub
Cerita Rakyat Jaka
Tarub dalam Bahasa Jawa
Wonten
ing satunggaling dusun, wonten kaluargi ingkang naminipun mbok randa kaliyan
putra kakungipun. Putra kakungipun ingkang sampun ngancik dewasa lan naminipun
inggih menika Jaka Tarub. Padamelan saben dinten inggih menika madosi ron
pisang utawi ron jati kangge dipun sade wonten peken ing saklebetipun kitha
kudus. Ron menika dipunlintakaken kaliyan uwos
kaliyan sarem kangge ulamipun saben dinten. Tindakanipun wonten peken ngantos
pinten-pinten minggu saking tebihing kitha. Pedamelan sanesipun Jaka Tarub
menika mbebedak wonten wana kangge ulamipun.
Wontan ing satunggaling dinten ing
kaluargi menika boten gadhah ulam kangge dhaharipun saben dinten lajeng Jaka
Tarub matur kaliyan biyung kangge kesah wonten wana kangge mbebedak. Kados
adatipun menawi mbebedak bidalipun bada’ subuh supados konduripun boten surup.
Ananging boten ngertos menapa menika sampun dangu amargi boten angsal
punapa-punapa, menika Jaka Tarub nembe apes, sampun sonten sampun dangu lampahipun
Jaka Tarub boten manggih.
Satunggal punapa kemawon sato kewan.
Namung Jaka Tarub menika boten putus asa piyambakipun taksih nglajengaken
lampahipun ingkang tebih sanget wonten ing jeronipun wana. Ananging ngantos
dalu JakaTarub taksih boten angsal punapa-punapa. Saking sayakipun Jaka Tarub
kepengin sumene ngantos sare saestu, amargi lampahipun menika tebih sanget
lajeng Jaka Tarub sare ing sakjeronipun wana. Piyambakipun kaget amargi
kepireng suanten gumujuning tiyang-tiyang estri sami gumujengan. Amargi pengin
ngertos suanten menika punapa lan saking pundi sejatosipun pramila Jaka Tarub
madosi suanten menika. Piyambakipun menika boten percaya kalioyang ingkang Jaka
Tarub mersani ing dalu menika Jaka Tarub kaget amargi ing tengahing wana wonten
suanten widodari-widodari ingkang sami gumujengan sinambi siram lelangin ing
sendang. Jaka Tarub nyaketi panggenan widodari menika ingkang nembe siram kala
wau amargi dalu punika kaleresipun wulan purnama. Sanalika Jaka Tarub gadhah
pamanggih pengin garwa satunggal pramila piyambakipun mundut rasukan satunggal
lan dipunsinggitaken. Wonten satunggal widodari ingkang kicalan rasukan dipun
tilar rencangipun sami widodari. Widodari menika duka lan nuwun lajeng widodari
menika dipun caketi Jaka Tarub lan dipun reh-reh lajeng dipunbeta wangsul lan
kagarwa dening Jaka Tarub, widodari menika gadhah nami Nawang Wulan.
Wonten ing satunggaling dinten Nawang
Wulan sampun kagungan putrid saking Jaka Tarub ingkang naminipun Nawang Sih,
amargi rasukan kathah ingkang reged pramila Nawang Wulan nyuwun JakaTarub
kangge nenggani Nawang Sih kaliyan adangipun kanthi manthi-manthi, lan Jaka
Tarub boten angsal mbukak kekep. Saktindakipun Nawang Wulan wonten lepen Jaka
Tarub malah kepengin ngertos isinipun kekep, menika punapa Jaka Tarub kaget
menapa amargi ingkang dipun adang garwanipun naming satunggal kantun kemawon.
Saking kedadosan punika kaseteripun Nawang Wulan dados widodari ical lan
adangipun satunggal las dados satunggal bugak ical. Pramila mulai nutu pari
adangipun uwos dados limrahipun tiyang gesang wonten brebayan amargi pantunipun
telas kantun rentengan wonten lumbung.
Ing
satunggaling dinten Nawang Wulan nglengkep gelaran klasa kados pundi kegetipun
manah Nawang Wulan mersani rasukan widodari wonten ing ngandapipun klasa,
piyambakipun kaget amargi piyambakipun duka dumateng garwanipun amargi sampun
dipun apusi. Nawang Wulan menika mutusaken kangge minggah kayangan malih lajeng
ngagem rasukan. Sakderengipun minggah ing kayangan Nawang Wulan pesen kaliyan
Nawang Sih yen kepureh kangen mersani mbulan amargi ing tengahing bulan wonten
bayangipun Nawang Wulan. Anaging sak sampunipun dugi kayangan Nawang Wulan
boten dipun tampi malih dados widodari amargi sampun kecampuran kaliyan
manungsa. Nawang Wulan menika lingsem lan boten purun jelma malih dados
manungsa, amargi rekaos gesangipun pramila Nawang Wulan nglalu wonten segara
kidul wonten segara kidul lan dados Ratu Kidul ingkang gadhah naminipun Nyi
Roro Kidul.
=================================================================
Tanaman Cengkeh
Cengkeh
Tanaman Kondisi

Cengkeh tanaman kondisi dalam berbagai
literature dikemukakan bahwa bibit tanaman cengkeh yang berasal dari polong
memang cukup baik pertumbuhannya. Namun hal tersebut tidak dapat menjamin
produktivitasnya akan sama dengan tanaman induknya. Hal ini disebabkan oleh
sifat penyerbukan (pollination) tanaman cengkeh. Tanaman cengkeh merupakan
tanaman yang menyerbuk silang. Sehingga materi genetic yang terbentuk dari
polong yang terbentuk akan menjadi beragam dan tidak akan sama dengan induknya.
Cengkeh tanaman kondisi Benih / biji cengkeh / polong diambil dari pohon
induk jenis Zanzibar dengan kondisi pohon sebagai berikut
:
- Pohon induk berumur minimal 15
tahun
- Tajuk (percabangan & daun)
cukup baik (80 – 100%).
- Pohon dalam kondisi sehat,
tidak terserang hama dan penyakit
- Produksi biji cengkeh /
polong yaitu 5.000 polong per pohon, pada saat musim panen.
Staf perkebunan cengkeh Branggah Banaran
mengemukakan bahwa baru-baru ini telah dilakukan percobaan pembibitan cengkeh
dengan cara vegetative yaitu dengan cara stek. Stek yang diambil merupakan
bagian dari pohon yang dinilai baik sifat fenotif dan genotifnya. Sehingga
keturunan yang dihasilkan akan sama persis dengan induknya. Namun dengan
berkembangnya teknologi, pembibitan cengkeh bisa dilakukan dengan cara kultur
jaringan.
II.
STANDAR BIBIT CENGKEH
SIAP TANAM
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
keberhasilan penanaman cengkeh yaitu penggunaan bibit cengkeh yang berkualitas
baik. Adapun standar bibit cengkeh yang berkualitas baik, sebagai berikut:
- Benih berasal dari jenis
cengkeh yang baik yaitu jenis Zanzibar
- Benih
berasal dari pohon induk yang sehat, berumur di atas 15 tahun
dan produksi tinggi.
- Umur bibit sekitar 2
tahun.
- Tajuk (percabangan & daun)
bibit, lebat serta simetris
- Warna daun bibit, hijau tua dan
mengkilap
- Bibit tidak terserang hama /
penyakit
Ada
beberapa pendapat mengenai penyiapan bibit cengkeh. Normalnya, bibit cengkeh
bisa siap salur dalam waktu 2 tahun. Namun jika pemeliharaan yang dilakukan
sangat baik maka bibit cengkeh bisa siap salur hanya dalam waktu 1 – 1,5 tahun.
Ketinggian standar bibit siap salur rata-rata 1, 2 meter dengan batang yang
kokoh dan daun kanopi yang sehat.
Untuk memperoleh bibit cengkeh yang berkualitas baik, beberapa tahap yang harus
dilakukan sebagai berikut:
A. Pemilihan
tempat untuk Pembibitan
B. Pesemaian
C. Pembibitan
D. Penyiapan
Tanaman Untuk Pembibitan
A.
PEMILIHAN TEMPAT UNTUK
PEMBIBITAN
Pemilihan tempat sangat menentukan keberhasilan
pembibitan cengkeh, sehingga harus dicari tempat yang memenuhi syarat dari segi
teknis. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sebagai tempat pembibitan
cengkeh, sbb:
- Terdapat sumber air untuk
penyiraman
- Areal
terbuka (tidak ada naungan dari pohon besar)
- Tanah cukup subur (masih
terdapat top soil, tidak keras / berbatu)
- Dekat
dengan jalan, untuk memudahkan transportasi
B.
PESEMAIAN
Pesemaian dibuat untuk menyemaikan biji cengkeh / benih sampai
dengan menjadi bibit cengkeh kecil yang mempunyai 2 – 3 pasang daun. Adapun tahap-tahap pekerjaan dalam Pesemaian
, sebagai berikut :
1.
PEMBUATAN BEDENGAN
- Tanah
dibersihkan dari berbagai jenis gulma
- Dibuat bak
bedengan dengan bambu, tinggi = 20 cm, lebar = 120 cm, panjang
menyesuaikan banyaknya biji yang akan disemai.
- Isi bak bambu dengan pasir
walet (pasir sungai) sampai tinggi = 20 cm
- Pasang
peteduh pada bedengan, dengan tinggi 1, 5 m dan prosentase naungan sekitar
95%. Bahan yang dipakai daun kelapa
atau anyaman bamboo.
- Sterilisasi media menggunakan
insektisida Marshall 200 EC konsentrasi 3 ml/lt air dengan dosis 5 lt/m2
dengan cara dikocor. Titik kritis pada tahap persemaian adalah Seed
Treatment dan persiapan media. Polong cengkeh yang akan disemai
kemungkinan besar telah mengandung penyakit sehingga tingkat kegagalan
dalam persemaian cengkeh cukup tinggi.
- Seed Treatment: pada tahap persemaian, lebih banyak penyakit
yang menyerang antara lain: Phytium sp. (rebah batang). Untuk
menjaga hal tersebut maka biji polong bisa direndam pada air yang sudah
diberikan Fungisida dengan bahan aktif Propamocarb hidrochlorida
dengan merk dagang Previcur N. Namun pengalaman penulis, akan lebih
baik jika seed treatment dilakukan dengan cara perendaman dengan
menggunakan larutan air yang dicampur dengan mikroorganisme yang mampu
menekan pertumbuhan penyakit pada persemaian. Penulis menggunakan Custombio
yang mengandung berbagai microorgansme seperti jamur trichodrema sp
dan beberapa species bakteri yang bermanfaat untuk mengikat unsur hara
lepas. Tingkat persentase persemaian yang hidup dapat bertahan sampai
dengan 90%.
·
Persiapan Media: Media yang
digunakan bisa berupa tanah yang dicampur pupuk kandang ataupun pasir. Penulis
mengguanakan pasir karena dinilai mempunyai beberapa kemudahan. Penempatan
lokasi persemaian pada dasarnya dipilih untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Menurut penulis, hal yang paling penting persemaian harus terhindar dari factor
abiotic seperti cuaca dan seranga hama dan penyakit. Penulis melakukan
persemaian di lokasi yang tertutup tepatnya didalam gudang yang beratapkan seng
sehingga terhindar dari cuaca hujan dan panas secara langsung, serta
meminimalkan investasi penyakit. Pasir yang akan digunakan sebagai media tanam
terlebih dahulu disemprot dengan larutan Custombio untuk menekan pertumbuhan
mikroorganisme pathogen. Menurut pengalaman penulis, hal ini mampu meningkatkan
pertumbuhan persemaian hingga 90%.
2.
PENYEMAIAN BIJI CENGKEH
2.1.
Pengadaan Biji Cengkeh
a.
Biji berasal dari pohon induk yang terpilih. Adapun syarat pohon induk, sbb :
· Umur
di atas 15 tahun
· Tajuk
pohon (percabangan & daun) lebat, berbentuk simetris
· Kondisi
pohon sehat
· Pohon
berbunga hampir tiap tahun
· Produksi
cengkeh / bunga relative banyak (minimal 50 kg cengkeh basah per pohon
pada umur 15 tahun)
b.
Biji diambil dari 1/3 bagian tajuk pohon, bagian tengah.
c.
Pilih biji cengkeh yang sudah tua (warna kulit ungu)
2.2.
Perlakuan Biji Cengkeh
- Biji cengkeh yang sudah
dipetik, dikupas kulitnya menggunakan pisau yang tajam dan bagian biji
tidak boleh terluka.
- Pilih biji dengan ukuran
relative besar atau 1 kg biji berisi 800 butir dan sehat (tidak
terdapat bintik-bintik hitam) serta warna biji setelah dikupas, hijau
kemerahan
- Rendam biji cengkeh dalam
air, selama sehari.
2.3.
Penanaman Biji Cengkeh
a. Pembuatan Bedengan
Pesemaian
· Buat
bedengan dengan lebar 100 cm dan panjang sesuai kebutuhan dan tinggi
sekitar 20 cm.
· Gemburkan
tanah bedengan setinggi 20 cm dan akan lebih baik bila bedengan dicampur dengan
pasir sungai.
· Buat
naungan pada bedengan dengan prosentase naungan 100 % dan tinggi 100 – 150 cm.
Bahan yang dipakai atap bamboo atau daun kelapa.
b.
Penanaman Biji
Biji
cengkeh ditanam pada bedengan yang sudah disiapkan dengan ketentuan:
· Jarak
tanam biji 5 x 5 cm2
· Biji
ditanam secara tegak (bagian ujung biji yang runcing, berada di
atas) sampai sedalam kira-kira 3/4 panjang biji. Sehingga 1/4 bagian
biji nampak di atas permukaan tanah.
3.
PEMELIHARAAN
PESEMAIAN
Agar benih yang sudah disemaikan dapat tumbuh dengan baik, maka harus dilakukan
pemeliharaan, sebagai berikut:
a.
Dilakukan
penyiraman setiap hari, untuk menjaga kelembaban media.
b.
Dilakukan
penyiangan atau pembersihan gulma
C.
PEMBIBITAN
Setelah kira-kira 30 – 45 hari, benih dipesemaian akan
tumbuh menjadi bibit kecil (2 -3 pasang daun), selanjutnya dipindahkan ke
polybag dipembibitan. Kegiatan Pembibitan yaitu
memelihara bibit kecil sampai dengan bibit siap tanam (berumur 2 tahun). Adapun
tahap-tahap pekerjaan dalam pembibitan, sbb:
1.
PEMBUATAN MEDIA
TANAM (POLYBAG)
- Buat Bedengan
· Arah
bedengan Utara - Selatan
· Tinggi
bedengan sekitar 20 cm, Lebar 150 Cm dan panjang sesuai kebutuhan
- Pasang Peneduh
Pasang
peteduh pada bedengan, dengan tinggi bagian timur 2 m, sedangkan bagian barat
1,5 m. Prosentase naungan 50 %.
Bahan yang dipakai yaitu anyaman bambu. Alternatife lain memakai
daun kelapa atau paranet
- Isi Polybag
· Siapkan
polybag ukuran p x l = 40 x 35 cm2
· Siapkan
media polybag berupa campuran tanah : pupuk kandang =2: 1
· Masukkan
media ke dalam polybag sampai penuh (1cm dibawah bibir polybag)
· Atur
polybag pada bedengan dengan jarak sekitar 25 x 25 cm2
- Sterilisasi Media
Sterilisasi media menggunakan insektisida Marshal
konsentrasi 3 ml/lt air dengan dosis 200 ml/polybag, dengan cara
dikocor. Penulis melakukan aplikasi jamur antagonis terhadap pathogen yaitu
jamur Trichoderma sp.
2.
PENANAMAN BIBIT
Setelah benih disemaikan dipesemaian, kemudian akan tumbuh menjadi bibit
kecil dan selanjutnya bibit dipindahkan ke polybag dipembibitan.
Penanaman bibit dilakukan dengan ketentuan, sebagai berikut:
- Pilih
bibit yang sudah mempunyai 2 – 3 pasang daun.
- Cabut /
congkel bibit yang sudah siap tanam secara hati-hati agar akar tidak
rusak.
- Tanam bibit pada polybag dengan
cara dibuat lubang pakai kayu, kira-kira sedalam akar bibit yang akan
ditanam.
- Tanam bibit pada lubang
tersebut, kemudian lubang ditutup tanah dan agak dipadatkan.
3.
PEMELIHARAAN BIBIT
3.1.
Penyiraman
Penyiraman setiap hari pada saat musim kemarau.
3.2.
Penyiangan
Penyiangan atau pengendalian gulma dilakukan setiap 15 hari sekali. Gulma
yang tumbuh dipolybag, dibersihkan dengan cara dicabut. Tanah digemburkan
menggunakan solet atau kecruk.
3.3
Pemupukan
Untuk memacu pertumbuhan vegetatif bibit, maka harus dilakukan pemupukan
anorganik. Pupuk yang dipakai yaitu pupuk NPK 15:15:15. Adapun dosis pupuk,
sebagai berikut:
Umur (bln) Dosis pupuk NPK(gram / bibit)
3 1
7 2
11
3
15
3
Pemupukan dilakukan setiap bulan dengan
tujuan untuk memacu pertumbuhan vegetative.
•
Pupuk Anorganik: Pupuk Anorganik yang diaplikasikan pada tahap pembibitan yaitu
pupuk Urea. Dosis yang diaplikasikan yaitu 5 gr per pohon. Selain itu juga bisa
diaplikasikan pupuk NPK dengan dosis 5 gr/pohon. Pemupukan pada tahap
pembibitan dilakukan hanya dengan cara membuat lubang di pinggir perakaran
bibit cengkeh. Pupuk ditabur dilubang tersebut dan segera ditimbun.
•
Pupuk Organik: Pupuk organic yang diaplikasikan adalah pupuk kandang yang sudah
jadi. Setiap pohon diberi sekitar 100 – 200 gr.
•
Pupuk Daun: Pupuk daun yang diaplikasikan penulis adalah pupuk daun dengan merk
dagang Bayfolan. Hasil yang didapat cukup signifikan. Pupuk daun ini
diaplikasikan dengan interval 1 bulan atau 2 bulan sekali dengan dosis 3-5
ml/liter air. Selain itu, pupuk cair organic juga bisa diaplikasikan
pada tahap pembibitan ini. Pupuk
cair organic ini akan dibahas pada Bab tertentu.
•
Teknologi EMP: Teknologi ini merupakan singkatan dari Effective Microorganism
Procedure. Teknologi ini bukan merupakan teknologi baru namun biasanya para
pelaku pertanian sangat malas dalam melakukannya. Menurut pengalaman penulis,
teknologi ini sangat menguntungkan. Cara aplikasi dari EMP ini cukup mudah.
Pada tanaman cengkeh dari berbagai tahapan saya aplikasikan hampir sama yaitu 5
hari sebelum atau sesudah pemupukan dengan pupuk organic atau anorganik
diaplikasikan microorganisme yang berfungsi untuk mengurai pupuk tersebut
menjadi unsur yang dapat diserap secara langsung oleh tanaman. Contohnya
EM4, Custombio, Stardek dan lain-lain.
3.4.
Pengendalian Hama & Penyakit (PHP)
1.
Hama Pembibitan Cengkeh
Hama yang menyerang pembibitan cengkeh antara
lain:
·
Rayap (Captotermes sp.)
·
Gayas
Pengendalian hama & penyakit dapat dilakukan secara preventif (pengendalian
sebelum terdapat gejala serangan hama / penyakit ) dan kuratif (pengendalian
setelah terdapat gejala serangan hama / penyakit).
Pengendalian
secara preventif dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan atau fungisida
pada rotasi waktu tertentu. Insektisida yang dipakai Marshall, Damasid dll.
Sedangkan fungisida yang dipakai Dithane 80 WP, Benlate, Antracol 70 WP, dll.
Umur bibit (bulan) Rotasi semprot
0 - 6 15 hari
> 6 30
hari
Pengendalian secara kuratif , dilakukan bila terdapat
gejala serangan hama atau penyakit. Hama yang sering menyerang
dipembibitan cengkeh yaitu rayap, kutu putih, penghisap daun dll. Pengendalian
menggunakan insektisida Decis atau Marshal, konsentrasi 1 – 2 cc/lt air.
Sedangkan penyakit yang sering menyerang dipembibitan cengkeh yaitu embun
jelaga, cacar daun, bercak daun merah. Pengendalian
menggunakan fungisida Benlate, Dithane, konsentrasi 2 gr/lt air.
3.5.
Pengaturan Naungan
Pengaturan naungan dilakukan dengan cara memelihara naungan yang sudah
ada dan mengatur intensitasnya. Pengurangan intensitas naungan disesuaikan
dengan umur bibit. Adapun pengaturan intensitas naungan bibit, sbb:
Umur bibit Intensitas
Naungan (%)
0 –
12 50
12 –
24 0
D.
PENYIAPAN BIBIT UNTUK
PENANAMAN
Untuk penanaman di lapangan harus dipilih bibit yang baik, agar dapat
menghasilkan tanaman yang baik pula. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi
bibit, sebagai berikut:
- Umur bibit sekitar 21 – 24
bulan
- Pertumbuhan bibit normal,
tinggi minimal 70 cm, tajuk (percabangan & daun) lebat dan simetris
- Bibit tidak terserang hama /
penyakit
- Bibit mempunyai batang tunggal
Budidaya sengon diperbanyak dengan menyemaikan biji sengon. Biji sengon
yang dijadikan benih sengon harus terjamin mutunya. Benih sengon yang baik
adalah benih sengon yang berasal dari induk pohon kayu sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik,
seperti : bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama
ataupun tahan penyakit.
Ciri-ciri benih sengon yang
baik yaitu :
- Kulit
benih sengon bersih berwarna coklat tua
- Ukuran benih sengon maksimum
- Tenggelam
dalam air ketika benih direndam
- Bentuk
benih sengon masih utuh.
- Selain
penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan daya tumbuh dan daya
hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya dengan
mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka
daya tumbuhnya tinggi.
Banyaknya
benih sengon yang dibutuhkan suatu persemaian sengon ditentukan beberapa faktor
sebagai berikut :
1. Jumlah semai sengon yang
harus dihasilkaan
2. Peren perkecambahan
(viabilitas) dari benih sengon yang bersangkutan.
3. Persen jadi semai sampai
bibit sengon siap tanam,dan
4.
Jumlah butir benih sengon tiap kg.
Untuk menghitung banyaknya
benih sengon yang dibutuhkan di persemaian sengon dapat
dipergunakan rumus sebagai
berikut :
V = A / B. C. D
dimana
A = Jumlah bibit sengon
yang harus dihasilkan
B =
Persen perkecambahan dari benih sengon yang bersangkutan
C =
Persen jadi semai sampai siap tanam
D = Jumlah butir benih
sengon tiap kg
V = Jumlah benih sengon
yang dibutuhkan (dalam kg).
Contoh :
Persemaian sengon (Paraserianthes
falcataria) dengan jumlah bibit sengon yang harus dihasilkan 400.000
batang; persen perkecambahan sengon 50 % persen jadi semai sampai siap
ditanam 80%; jumlah butir benih sengon tiap kg = 50.000. Maka jumlah
yang dibutuhkan :
V = 400.000 / 50% x 80% x
50.000
= 20 Kg
Benih sengon
Sehubungan dengan biji
sengon memiliki kulit yang liat dan tebal serta segera berkecambah apabila
dalam keadaan lembab, maka sebelum benih sengon disemaikan, sebaiknya dilakukan
treatment terhadap benih sengon tersebut sehingga membuat daya kecambah dari
benih sengon tersebut bisa maksimal, caranya yaitu : Benih direndam dalam air
panas mendidih (80 C) selama 15 – 30 menit. Setelah itu, benih direndam kembali
dalam air dingin sekitar 24 jam, lalu ditiriskan. untuk selanjutnya benih siap
untuk disemaikan.
Keberhasilan persemaian
benih sengon ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan tempat, oleh karena itu
perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih tempat persemaian sengon
sebagai berikut :
- Lokasi persemaian sengon sebaiknya ditempat yang datar
atau dengan derajat kemiringan maksimum 5%,
- Memiliki sumber air yang mudah diperoleh sepanjang
musim,
- Kondisi tanahnya gembur dan subur, tidak
berbatu/kerikil, tidak mengandung tanah liat.
- Berdekatan dengan lokasi penanaman sengon dan jalan
angkutan, guna menghindari kerusakan bibit sengon pada waktu pengangkutan.
- Untuk memenuhi kebutuhan bibit sengon dalam jumlah
besar perlu dibangun persemaian sengon yang didukung dengan sarana dan
prasarana pendukung yang memadai, antara lain bangunan persemaian, sarana
dan prasarana pendukung, sarana produksi tanaman dll.
Tahapan
Penyemaian Benih Sengon
Kegiatan penaburan benih
sengon dilakukan dengan maksud untuk memperoleh prosentase kecambah sengon yang
maksimal dan menghasilkan kecambah sengon yang sehat. kualitas kecambah sengon
ini akan mendukung terhadap pertumbuhan bibit sengon, kecambah sengon yang baik
akan menghasilkan bibit sengon yang baik pula dan hal ini akan dapat membentuk
tegakan pohon sengon yang berkualitas.
Bahan dan alat yang perlu
diperhatikan dalam kegiatan penaburan benih sengon adalah sebagai berikut :
• Benih
sengon
• Bedeng
tabur/bedeng kecambah sengon
•
Media Tabur, campuran pasir dengan tanah 1 : 1
•
Peralatan penyiraman
•
Tersedianya air yang cukup
Teknik pelaksanaan, bedeng
tabur dibuat dari bahan kayu/bambu dengan atap rumbia dengan ukuran bak tabur 5
x 1 m ukuran tinggi naungan depan 75 cm belakang 50 cm. kemudian bedeng tabur
disi dengan media tabur setebal 10 cm , usahakan agar media tabur ini bebas
dari kotoran/sampah untuk menghindari timbulnya penyakit pada kecambah sengon.
Penaburan benih sengon pada
media tabur dilakukan setelah benih sengon mendapat perlakuan guna mempercepat
proses berkecambah dan memperoleh prosen kecambah sengon yang maksimal.
Penaburaan benih sengon dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari untuk
menghindari terjadinya penguapan yang berlebihan.
Penaburan benih sengon ini
ditempatkan pada larikan yang sudah dibuat sebelumnya, ukuran larikan tabur ini
berjara 5 cm antar larikan dengan kedalaman kira – kira 2,0 cm. Usahakan benih
sengon tidak saling tumpang tindih agar pertumbuhan kecambah sengon tidak
bertumpuk. Setelah kecambah sengon berumur 7 – 10 hari maka kecambah sengon siap
untuk dilakukan penyapihan.
Langkah-langkah kegiatan
penyapihan bibit sengon:
- Siapkan polybag ukuran 10 x 15 cm,
- Masukkan media tanam yang berupa campuran tanah subur,
pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Jika tanah cukup gembur, jumlah pasir
dikurangi.
- Setelah media tanam tercampur merata, kemudian
dimasukkan ke dalam polybag setinggi ¾ bagian, barulah kecambah sengon
ditanam, setiap kantong diberi satu batang kecambah sengon.
- Polybag yang telah berisi bibit sengon, diletakkan
dibawah para-para yang diberi atap jerami atau daun kelapa, agar bibit
sengon tidak langsung tersengat terik matahari.
- Pada masa pertumbuhan bibit sengon kecil sampai pada
saat kondisi bibit sengon layak untuk ditanam di lapangan perlu dilakukan
pemeliharaan secara intensif.
Pemeliharaan yang dilakukan
terhadap bibit sengon dipersemaian adalah sebagai berikut :
- Penyiraman
: Penyiraman yang optimum akan memberikan pertumbuhan
yang optimum pada bibit sengon. Penyiraman bibit sengon dilakukan pada
pagi dan sore hari maupun siang hari dengan menggunakan nozle. Selanjutnya
pada kondisi tertentu, penyiraman dapat dilakukan lebih banyak dari
keadaan normal, yaitu pada saat bibit sengon baru dipindah dari naungan ke
areal terbuka dan hari yang panas.
- Pemupukan
:
Pemupukan bibit sengon dilakukan dengan menggunakan larutan
"gir". Adapun pembuatan larutan "gir: sebagai berikut :
Disiapkan drum bekas dan separuh volumenya diisi pupuk kandang. Tambahkan
air sampai volumenya ¾ bagian, kemudian tambahkan 15 kg TSP, lalu diaduk
rata. Biarkan selama seminggu dan setelah itu digunakan untuk pemupukan.
Dosis pemupukan sebanyak 2 sendok makan per 2 minggu, pada umur 6 bulan,
ketika tingginya 70 – 125 cm, bibit sengon siap dipindahkan ke kebun
sengon.
- Penyulaman : Penyulaman
dilakukan apabila bibit sengon ada yang mati dan perlu dilakukan dengan
segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya.
- Penyiangan : Penyiangan
terhadap gulma, dilakukan dengan mencabut satu per satu dan bila perlu
dibantu dengan alat pencungkil, namun dilakukan hati –hati agar jangan
sampai akar bibit sengon terganggu. Beberapa hama yang biasa menyerang
bibit sengon adalah semut, tikus rayap, dan cacing, sedangkan yang
tergolong penyakit ialah kerusakan bibit sengon yang disebabkan oleh
cendawan.
- Seleksi bibit sengon : Kegiatan
seleksi bibit sengon merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum bibit
sengon dimutasikan kelapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit sengon
yang baik dari bibit sengon yang kurang baik pertumbuhannya. Bibit sengon
yang baik merupakan prioritas pertama yang bisa dimutasikan kelapangan
untuk ditanam sedangkan bibit sengon yang kurang baik pertumbuhannya
dilakukan pemeliharaan yang lebih intensip guna memacu pertumbuhan bibit
sengon sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit sengon
mempunyai kualitas yang merata.
Penyiapan Lahan : Penyiapan
lahan pada prinsipnya membebaskan lahan dari tumbuhan pengganggu atau komponen
lain dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan
dibudidayakan. Cara pelaksanaan penyipan lahan digolongkan menjadi 3 cara,
yaitu cara mekanik, semi mekanik dan manual. Jenis kegiatannya terbagi menjadi
dua tahap ;
1.
Pembersihan lahan, yaitu berupa kegiatan penebasan terhadap semak belukar dan
padang rumput. Selanjutnya ditumpuk pada tempat tertentu agar tidak mengganggu
ruang tumbuh tanaman.
2.
Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dengan cara
mencanggkul atau membajak (sesuai dengan kebutuhan).
Penanaman
: Jenis kegiatan yang dilakukan berupa :
- Pembuatan
dan pemasangan ajir tanam ajir dapa dibuat dari bahan bambu atau kayu
dengan ukuran, panjang 0,5 – 1 m, lebar 1 – 1,5 cm. Pemasangangan ajir
dimaksudkan untuk memberikan tanda dimana bibit sengon harus ditanam,
dengan demikian pemasangan ajir tersebut harus sesuai dengan jarak tanam
yang digunakan
- Pembuatan
lobang tanam, lobang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm tepat pada
ajir yang sudah terpasang.
- Pengangkutan
bibit sengon, ada dua macam pengangkutan bibit yaitu pengankuatan bibit
dari lokasi persemaian ketempat penampungan bibit sementara di lapangan
(lokasi penanaman), dan pengangkutan bibit dari tempat penampungan
sementara ke tempat penanaman.
- Penanaman
bibit sengon, pelaksanaan kegiatan penanaman sengon harus dilakukan secara
hati – hati agar bibit sengon tidak rusak dan penempatan bibit sengon pada
lobang tanam harus tepat ditengah-tengah serta akar bibit sengon tidak
terlipat, hal ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit sengon
selanjutnya.
Pemeliharaan,
kegiatan pemeliharaan yang dilakukan berupa kegiatan :
- Penyulaman,
yaitu penggantian tanaman sengon yang mati atau sakit dengan tanaman
sengon yang baik, penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu setelah
tanam, penyulaman kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun pertama
(sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman
tidak tertinggal dengan tanaman lain, maka dipilih bibit sengon yang baik
disertai pemeliharaan yang intensif.
- Penyiangan, pada dasarnya kegiatan
penyiangan dilakukan untuk membebaskan tanaman pokok dari tanaman penggagu
dengan cara membersihkan gulma yang tumbuh liar di sekeliling tanaman
sengon, agar kemampuan kerja akar sengon dalam menyerap unsur hara dapat
berjalan secara optimal. Disamping itu tindakan penyiangan juga
dimaksudkan untuk mencegah datangnya hama dan penyakit yang biasanya
menjadikan rumput atau gulma lain sebagai tempat persembunyiannya,
sekaligus untuk memutus daur hidupnya. penyiangan dilakukan pada
tahun-tahun permulaan sejak penanaman agar pertumbuhan tanaman sengon
tidak kerdil atau terhambat, selanjutnya pada awal maupun akhir musim
penghujan, karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh.
- Pendangiran, pendangiran yaitu
usaha mengemburkan tanah disekitar tanaman sengon dengan maksud untuk
memperbaiki struktur tanah yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.
- Pemangkasan, melakukan
pemotongan cabang pohon sengon yang tidak berguna (tergantung dari tujuan
penanaman).
- Penjarangan, penjarangan
dilakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih leluasa bagi tanaman
sengon yang tinggal. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman sengon
berumur 2 dan 4 tahun, Penjarangan pertama dilakukan sebesar 25 %, maka
banyaknya pohon yang ditebang 332 pohon per hektar, sehingga tanaman yang tersisa
sebanyak 1000 batang setiap hektarnya dan penjarangan kedua sebesar 40 %
dari pohon yang ada ( 400 pohon/ha ) dan sisanya 600 pohon sengon dalam
setiap hektarnya merupakan tegakan sisa yang akan ditebang pada akhir
daur. Cara penjarangan dilakukan dengan menebang pohon-pohon sengon
menurut sistem "untu walang" (gigi belakang) yaitu : dengan
menebang selang satu pohon pada tiap barisan dan lajur penanaman. Sesuai
dengan daur tebang tanaman sengon yang direncanakan yaitu selama 5 tahun
maka pemeliharaan pun dilakukan selama lima tahun. Jenis kegiatan
pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan
tanaman. Pemeliharaan tahun I sampai dengan tahun ke III kegiatan
pemeliharaan yang dilaksanakan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan,
pendangiran, pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan
berupa kegiatan penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh
kepada tanaman yang akan dipertahankan, presentasi dan prekuensi
penjarangan disesuaikan dengan aturan standar teknis kehutanan yang ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)

