KUDA KENCAK
Pada Awalnya Jaran Kencak di sebut dengan jaran kepang meskipun bukan terbuat dari anyaman bambu, karena pada saat itu kuda yang di kenderai rombongan dari Ponorogo hendak mengirimkan delegasi ke bali, untuk menjalin persaudaraan kerabat dan sudara Batara Kathong dari kerajaan Majapahit yang mengungsi ke Bali.
Namun ketika sampai di Lumajang, kuda yang di kenakan seragam jazirah perang seperti di pewayangan untuk di persembahkan di bali memberontak kesana kemari dan menendang-nendang tiada henti melawan rombongan, hingga dibuat sebuah keputusan bahwa kuda dan beberapa penjaga untuk tetap tinggal di lumajang untuk menenangkan kuda, sedangkan rombongan tetap melanjutkan ke Bali.
Hingga akhirnya kuda yang memberontak menjadi tenang dan jinak kembali, warga sekitar yang melihat kuda dijinakan tersebut merasa terhibur, Sejak saat itu menjadi sebuah kesenian bernama Jaran Ngepang yang berarti kuda menendang, namun lebih dikenal dengan nama Jaran Kepang.
Pada tahun 1806, cakraningrat sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang sampang Madura ke pulau Jawa bagian tapal kuda seperti Lumajang. Orang madura yang menjadi punduduk lumajang juga menggemari kesenian bernama jaran Kepang ini, karena seokor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan republik Indonesia jaran kepang lebih di kenal dengan jaran pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini.
Catatan: wajib menjaga dan melestarikan kesenian daerah agar tidak hilang
untuk mencari informasi.yang mungikn anda inginkan dan jangan malu untuk bertanda maupun mencari informasi.
Sunday, 21 January 2018
Cerita Rakyat Jawa timur
SARIP TAMBAK YOSO
Dusun Tambak Oso dibagi menjadi 2 wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai, wilayah tersebut biasa disebut Wetan kali dan Kulon Kali. Masing-masing wilayah mempunyai Jagoan (orang yang disegani karena kesaktiannya). Wilayah Kulon kali di kuasai oleh seorang jagoan bernama Paidi, dan Wetan kali dikuasai oleh Sarip.
Paidi adalah seorang pendekar yang berprofesi sebagai Kusir Dokar yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang yang terkenal dengan sebutan Jagang Baceman.
Sarip adalah pemuda jagoan dari desa Tambak Oso yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda. Di tengah kemiskinan dan kebodohan, Sarip bertindak sebagai maling budiman yang mencuri di rumah-rumah orang Belanda, saudagar kikir, dan para lintah darat, untuk dibagi-bagikan kepada warga miskin.
Sarip selalu menjadi Target Operasi Government Belanda, karena perbuatannya yang dianggap membuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda.
Suatu hari, sarip mendapati Ibunya sedang dihajar oleh Lurah Gedangan karena ibunya tidak dapat membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya.
Di lain hari diceritakan Saropah (adik misan Sarip) hendak pulang dari menagih pada orang-orang yang terpaut hutang dengan orang tuanya, di tengah jalan bertemu dengan Sarip dan pada saat itu Sarip bermaksud meminjam uang pada Saropah, karena belum mendapat izin dari orang tuanya, Saropah tidak mengabulkan permintaan Sarip. Sarip yang punya perangai kasar tidak sabar dan memaksa Saropah untuk menyerahkan arloji yang sedang dipakainya, dan disaat terjadi perseteruan tersebut muncullah Paidi yang hendak menjemput Saropah. Oleh Orang tua Saropah Paidi memang telah dipercaya untuk menjaga Saropah agar aman dari ancaman orang2 yang tidak senang.
Setelah terjadi perang mulut antara Sarip dan Paidi, terjadilah duel maut antara dua pendekar tersebut. Sebilah pisau daput ternyata tidak lebih mempan dibanding Jagang Baceman yang notabene lebih panjang, akhirnya Sarip tewas dalam perkelahian tersebut dan mayatnya dibuang di sungai Sedati.
Dibagian hilir sungai Sedati, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu. Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir di sungai itu, dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia menjerit seraya berteriak "Sariiip durung wayahe Nak....." (Terjemah: Sarip, belum waktunya, Nak). Anehnya Sarip bangkit dari kematiannya dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur di sungai.
Kemudian ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, Ayahnya bertapa di Goa Tapa (daerah Sumber Manjing)selama beberapa waktu, dan ayahnya kembali pada saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah "Lemah Abang". Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan dapat bangkit dari kematian apabila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh 1.000 kali dalam sehari.
Dusun Tambak Oso dibagi menjadi 2 wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai, wilayah tersebut biasa disebut Wetan kali dan Kulon Kali. Masing-masing wilayah mempunyai Jagoan (orang yang disegani karena kesaktiannya). Wilayah Kulon kali di kuasai oleh seorang jagoan bernama Paidi, dan Wetan kali dikuasai oleh Sarip.
Paidi adalah seorang pendekar yang berprofesi sebagai Kusir Dokar yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang yang terkenal dengan sebutan Jagang Baceman.
Sarip adalah pemuda jagoan dari desa Tambak Oso yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda. Di tengah kemiskinan dan kebodohan, Sarip bertindak sebagai maling budiman yang mencuri di rumah-rumah orang Belanda, saudagar kikir, dan para lintah darat, untuk dibagi-bagikan kepada warga miskin.
Sarip selalu menjadi Target Operasi Government Belanda, karena perbuatannya yang dianggap membuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda.
Suatu hari, sarip mendapati Ibunya sedang dihajar oleh Lurah Gedangan karena ibunya tidak dapat membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya.
Di lain hari diceritakan Saropah (adik misan Sarip) hendak pulang dari menagih pada orang-orang yang terpaut hutang dengan orang tuanya, di tengah jalan bertemu dengan Sarip dan pada saat itu Sarip bermaksud meminjam uang pada Saropah, karena belum mendapat izin dari orang tuanya, Saropah tidak mengabulkan permintaan Sarip. Sarip yang punya perangai kasar tidak sabar dan memaksa Saropah untuk menyerahkan arloji yang sedang dipakainya, dan disaat terjadi perseteruan tersebut muncullah Paidi yang hendak menjemput Saropah. Oleh Orang tua Saropah Paidi memang telah dipercaya untuk menjaga Saropah agar aman dari ancaman orang2 yang tidak senang.
Setelah terjadi perang mulut antara Sarip dan Paidi, terjadilah duel maut antara dua pendekar tersebut. Sebilah pisau daput ternyata tidak lebih mempan dibanding Jagang Baceman yang notabene lebih panjang, akhirnya Sarip tewas dalam perkelahian tersebut dan mayatnya dibuang di sungai Sedati.
Dibagian hilir sungai Sedati, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu. Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir di sungai itu, dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia menjerit seraya berteriak "Sariiip durung wayahe Nak....." (Terjemah: Sarip, belum waktunya, Nak). Anehnya Sarip bangkit dari kematiannya dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur di sungai.
Kemudian ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, Ayahnya bertapa di Goa Tapa (daerah Sumber Manjing)selama beberapa waktu, dan ayahnya kembali pada saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah "Lemah Abang". Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan dapat bangkit dari kematian apabila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh 1.000 kali dalam sehari.
Aksi kuda kencak
Kesenian kuda kencak patut di acungi jempol, dari aksi kuda sendiri yang pintar untuk mematuhi intruksi dari pemilik kuda itu sendiri, maka kita generasi muda wajib menjaga dan melestarikan kesenian daerah jangan sampai hilang.
Thursday, 1 September 2016
Contoh Surat Izin Orang Tua
SURAT IZIN ORANG TUA
Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama
: Lukitya
Tempat/Tgl.Lahir : Semarang, 28 Juli 1973
Jenis
Kelamin
: Laki - laki
Pekerjaan
: Swasta
Alamat
: Pasirian kab.lumajang
Agama
: Islam
Dengan ini saya mengijinkan anak saya untuk melamar kerja di perusahaan
yang Bapak/Ibu Pimpin. Berikut identitas yang bersangkutan :
Nama
:
Tempat/Tgl.Lahir
:
Jenis
Kelamin
:
Alamat
:
Agama
:
Demikian surat izin ini saya buat dengan sebenarnya dan dapat digunakan
sebagaimana mestinya.
Asal Mula Desa Tambakrejo
disini saya akan menceritakan tentang asal mula desa Tambakrejo kab. Lumajang
Desa
Tambakrejo merupakan bagian dari Kecamatan Patebon yang ada di Kabupaten
Kendal. desa Tambakrejo terdiri dari 4 Rukun Warga dan 23 Rukun Tetangga.
Masyarakat yang tenteram dan damai dengan menjunjung nilai-nilai agama dan
budaya. Hal ini sudah sejak lama tetap utuh di desa Tambakrejo. Masyarakat yang
taat beribadah ini terlihat dengan kegiatan-kegiatan keagamaannya, seperti
adanya kegiatan “Kuliah Subuh” yang rutin diadakan pada minggu pagi sekitar
pukul 05.00 WIB.
Sobat
tahukah arti Tambakrejo itu??. Ketika Sobat berkunjung ke Desa Tambakrejo pasti
yang terbesit pertama kali dalam benak Sobat semua yaitu sebuah desa yang
memiliki banyak tambak ikannya dan dekat dengan laut. Sobat tidak akan mengira
bahwa sebenarnya desa Tambakrejo sebagian besar masyarakatnya berprofesi
sebagai petani padi dan jagung. Namun beberapa masyarakatnya ada juga yang
memiliki profesi sebagai petani tambak ikan.
Sejarah
pemberian nama Tambakrejo ini berawal dari sebuah kali besar yang berada di
barat laut desa Tambakrejo. RW 3 Desa Tambakrejo langsung berbatasan dengan
Desa Kebonharjo, kedua desa tersebut dipisahkan oleh “kali” atau sungai
besar. “Kali” besar tersebut ketika hujan lebat dapat menimbulkan banjir
di Desa Tambakrejo. Maka demi menangkis banjir tersebut dibuatlah jalan yang
besar dan tinggi oleh pangeran Lando. Kemudian pangeran Lando diberi julukan
kyai Tambak oleh wali Joko Kendil. Rakyat desa damai dan sejahtera, karena desa
tersebut bebas dari banjir karena “bejo” (karena ada tambak atau penahan
air yang dibuat). “Bejo” tadi diubah menjadi rejo. Kemudian desa
tersebut dikenal dengan nama desa Tambakrejo yang terdiri dari tiga RW dan satu
RW sisanya masih menjadi desa Tambakroto. Setelah lurah Tambakroto meninggal
dan tak ada yang menggantikannya, maka disatukanlah desa Tambakroto dengan desa
Tambakrejo yang sekarang menjadi RW 2.
Itulah
sejarah singkat dari desa Tambakrejo dan kehidupan sosial budayanya. Semoga
sejarah singkat di atas bermanfaat bagi para penikmat sejarah.
LEGENDA DESA CANDIPURO (Lumajang)
Candi Puro;
Peninggalan Mojopahit yang Mengilhami Nama Sebuah Kecamatan
Dipercaya, Bila Mandi di Kolam Bisa Awet Muda
Candi Putri atau Candi Puro yang terletak di Dukuh Selorejo, Desa Klopo Sawit, Kecamatan Candipuro, Lumajang menyimpan cerita sejarah tersendiri. Sayangnya, kondisi candi kini telah rusak dan tak terurus.
CANDI ini terletak sekitar 5 kilometer ke arah utara dari Balai Desa Sumberejo dan terletak di areal persawahan, masuk Desa Kloposawit. Berada di ketinggian 310 meter di atas permukaan laut (dpl) di lereng sebelah timur gunung Semeru.
Bangunan utama candi kini sudah tak berbentuk lagi. “Sekitar 20 tahun lalu, saya sering bermain ke sini dan bangunannya masih berdiri. Saya lupa tepatnya kapan candi ini rata dan tinggal tumpukan bata seperti ini,” jelas Kepala Desa Sumberejo Bowo Prayitno. Padahal, keberadaan candi inilah yang kemudian mengilhami munculnya nama Kecamatan Candipuro.
Bangunan candi sebagian besar terdiri dari batu bata merah berukuran sedang dengan luas mencapai 12 meter persegi. Selain tumpukan batu bata merah, terdapat beberapa batu andesit sebanyak 7 buah yang merupakan pintu ambang masuk ke dalam candi. “Dulu sewaktu saya masih kecil, bangunannya masih berdiri. Tapi kemudian ambruk dan akhirnya hanya ditumpuk seperti ini,” katanya sambil menunjukkan tumpukan batu bata.
Saat ini, bangunan candi hanya dibatasi pagar kawat yang sudah karatan. Menurut Bowo, sejak bangunan candi roboh, banyak warga yang mengambil batu bata. Ada yang digunakan tambahan bahan bangunan rumah, ada pula yang digunakan untuk tungku.
Keberadaan candi ini juga memunculkan cerita-cerita menarik dan sedikit berbau mistis. “Kalau tumang (tungku)-nya pakai batu candi, nasi yang dimasak tidak mateng-mateng (masak). Jadi ada yang dikembalikan lagi ke kompleks ini,” katanya.
Menurut cerita juga, di dalam bangunan candi, konon terdapat sebuah gua yang sangat panjang. “Katanya tembus hingga laut utara Jawa,” tambahnya. Tapi, belum ada yang masuk ke dalam gua untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut.
Sementara, kondisi sebelah selatan candi dengan jarak kira-kira 50 meter terdapat kubangan air yang dipenuhi rumput liar. Menurut Bowo, berdasarkan cerita yang dia dapatkan, kubangan ini dulunya merupakan kolam mandi yang airnya sangat jernih. “Berdasarkan cerita, kolam ini dulunya merupakan tempat mandi para putri Majapahit. Dan dipercaya jika mandi di kolam ini akan awet muda dan cantik,” jelasnya. Karenanya, lanjut dia, dulunya banyak yang mandi di kolam tersebut untuk mempertahankan kecantikan. Sayangnya, kolam tersebut kini sudah tak bisa lagi digunakan mandi. Seluruh kolam yang cukup luas itu sudah tertutup rumput ilalang dan lumut. Warga sekitar juga jarang yang mengambil air dari tempat tersebut.
Selain kedua lokasi tersebut, masih ada peninggalan lainnya. Yakni, berupa lingga yoni dari batu andesit 100 meter di arah utara candi. Yoni ini memiliki tinggi, panjang, dan lebar masing-masing 64 cm. sedangkan lingga memiliki diameter 16 cm. Bagian atas yoni pun sudah cuil dan patahannya banyak yang berserakan. Sedangkan pada lingga, pada bagian bulatannya juga patah. “Walau saya asli warga sini, saya tidak tahu pasti tentang candi ini,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Pendidikan Lumajang, hanya ada keterangan fisik material candi tanpa ada data yang lengkap soal candi tersebut. “Hanya tercatat jika bangunan candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1955,” ujar Suyadi, Kasi Kebudayaan. Candi tersebut, lanjut dia, diperkirakan dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit pada kisaran tahun 1200-an
Dilain Pihak, terkait perawatan Candi Putri atau Candi Puro, Kabidpora dan kebudayaan Drs Rukin berdalih, jika perawatan candi merupakan kewajiban pemeirntah provinsi. “Kalau kabupaten anggarannya tidak ada. Beberapa kali kami ajukan selalu dicoret,” ujarnya. (zawawi)
Dipercaya, Bila Mandi di Kolam Bisa Awet Muda
Candi Putri atau Candi Puro yang terletak di Dukuh Selorejo, Desa Klopo Sawit, Kecamatan Candipuro, Lumajang menyimpan cerita sejarah tersendiri. Sayangnya, kondisi candi kini telah rusak dan tak terurus.
CANDI ini terletak sekitar 5 kilometer ke arah utara dari Balai Desa Sumberejo dan terletak di areal persawahan, masuk Desa Kloposawit. Berada di ketinggian 310 meter di atas permukaan laut (dpl) di lereng sebelah timur gunung Semeru.
Bangunan utama candi kini sudah tak berbentuk lagi. “Sekitar 20 tahun lalu, saya sering bermain ke sini dan bangunannya masih berdiri. Saya lupa tepatnya kapan candi ini rata dan tinggal tumpukan bata seperti ini,” jelas Kepala Desa Sumberejo Bowo Prayitno. Padahal, keberadaan candi inilah yang kemudian mengilhami munculnya nama Kecamatan Candipuro.
Bangunan candi sebagian besar terdiri dari batu bata merah berukuran sedang dengan luas mencapai 12 meter persegi. Selain tumpukan batu bata merah, terdapat beberapa batu andesit sebanyak 7 buah yang merupakan pintu ambang masuk ke dalam candi. “Dulu sewaktu saya masih kecil, bangunannya masih berdiri. Tapi kemudian ambruk dan akhirnya hanya ditumpuk seperti ini,” katanya sambil menunjukkan tumpukan batu bata.
Saat ini, bangunan candi hanya dibatasi pagar kawat yang sudah karatan. Menurut Bowo, sejak bangunan candi roboh, banyak warga yang mengambil batu bata. Ada yang digunakan tambahan bahan bangunan rumah, ada pula yang digunakan untuk tungku.
Keberadaan candi ini juga memunculkan cerita-cerita menarik dan sedikit berbau mistis. “Kalau tumang (tungku)-nya pakai batu candi, nasi yang dimasak tidak mateng-mateng (masak). Jadi ada yang dikembalikan lagi ke kompleks ini,” katanya.
Menurut cerita juga, di dalam bangunan candi, konon terdapat sebuah gua yang sangat panjang. “Katanya tembus hingga laut utara Jawa,” tambahnya. Tapi, belum ada yang masuk ke dalam gua untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut.
Sementara, kondisi sebelah selatan candi dengan jarak kira-kira 50 meter terdapat kubangan air yang dipenuhi rumput liar. Menurut Bowo, berdasarkan cerita yang dia dapatkan, kubangan ini dulunya merupakan kolam mandi yang airnya sangat jernih. “Berdasarkan cerita, kolam ini dulunya merupakan tempat mandi para putri Majapahit. Dan dipercaya jika mandi di kolam ini akan awet muda dan cantik,” jelasnya. Karenanya, lanjut dia, dulunya banyak yang mandi di kolam tersebut untuk mempertahankan kecantikan. Sayangnya, kolam tersebut kini sudah tak bisa lagi digunakan mandi. Seluruh kolam yang cukup luas itu sudah tertutup rumput ilalang dan lumut. Warga sekitar juga jarang yang mengambil air dari tempat tersebut.
Selain kedua lokasi tersebut, masih ada peninggalan lainnya. Yakni, berupa lingga yoni dari batu andesit 100 meter di arah utara candi. Yoni ini memiliki tinggi, panjang, dan lebar masing-masing 64 cm. sedangkan lingga memiliki diameter 16 cm. Bagian atas yoni pun sudah cuil dan patahannya banyak yang berserakan. Sedangkan pada lingga, pada bagian bulatannya juga patah. “Walau saya asli warga sini, saya tidak tahu pasti tentang candi ini,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Pendidikan Lumajang, hanya ada keterangan fisik material candi tanpa ada data yang lengkap soal candi tersebut. “Hanya tercatat jika bangunan candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1955,” ujar Suyadi, Kasi Kebudayaan. Candi tersebut, lanjut dia, diperkirakan dibangun pada jaman Kerajaan Majapahit pada kisaran tahun 1200-an
Dilain Pihak, terkait perawatan Candi Putri atau Candi Puro, Kabidpora dan kebudayaan Drs Rukin berdalih, jika perawatan candi merupakan kewajiban pemeirntah provinsi. “Kalau kabupaten anggarannya tidak ada. Beberapa kali kami ajukan selalu dicoret,” ujarnya. (zawawi)
Coban Kethak
Wista yang harus anda datangin di hari libur kerja maupun libur sekolah. sekedar untuk mengenalkan wisata pada bumi kartini yang kaya dengan kekayaan alamnya dan keindahan yang tak ada duanya.
Coban
Kethak berlokasi di desa Pait kecamatan Kasembon kabupaten Malang yang telah
dibuka sejak November 2014 oleh Disbudpar Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara
SH, bersama administratur/KPPH Malang Ir Arif Herlambang MM ini semakin lama
banyak juga yang mengunjungi dan penasaran dengan keberadaan batu kepala singa
Memang
benar,kalau kita amati secara seksama,batu kepala singa tersebut persis berada
di bawah aliran air terjun. Fina salah satu staf pengelola menjelaskan kepada
Malang Pagi di saat liburan sekolah kemarin pengunjung bisa mencapai rata-rata
500 sampai 600 wisatawan per hari.
“Untuk hari
libur biasa,pengunjung perhari sekitar 50 sampai70 wisatawan.Untuk wisatawan
sendiri banyak juga yang datang dari luar kota,mereka juga penasaran dengan keberadaan
batu yang mirip kepala singa,”jelas Fina.
Coban kethak
dengan luas 4 hektar banyak di tumbuhi pohon durian dan alpukat saat ini
pengelolaannya dikelola oleh yayasan Suba Indonesia bekerja sama dengan
Perhutani kabupaten Malang denga harga tiket masuk sebesar 5000 rupiah.
Lokasinya pun mudah dijangkau, persis di samping jalan raya hutan Pait sekitar
15 km dari kecamatan Pujon ,jadi wisata tidak terlalu repot dan banyak
bertanya.
Untuk menuju
lokasi,wisatawan harus menapaki jalan bebatuan sepanjang 25 meter melewati
bangunan yang terbuat dari bambu dan wisatawan langsung bisa berhadapan dengan
air terjun yang memecah tebing berhiaskan akar-akar pohon liar dan berair
dingin ini,bak perawan yang baru terjaga dari tidurnya.Sarana dan keindahan
yang alami membuat wisatawa betah berlama-lama di tempat ini,
Suara
deburan air terjun setinggi 25 meter ini seakan memecah kesunyian hutan rimba
yang dulunya banyak di huni satwa liar ,seperti kera dan beraneka macam burung.
Subscribe to:
Posts (Atom)

